WEST PAPUA: Artikel Teologis
APAKAH BENAR PEMERINTAH WAKIL ALLAH?
(Dalam konteks Papua, Pemerintah Indonesia hadir sebagai wakil
raja Firaun dan raja Goliat, mungkin juga mewakili Iblis di Papua)
Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman
1. PENDAHULUAN
Dalam artikel ini, penulis berusaha menyampaikan pandangan
teologi saya. Menurut saya ada tiga teologi yang berkembang di Indonesia.
Walaupun ulasannya tidak mendalam tapi lebih baik ada usaha daripada tidak ada
usaha. Ikuti ulasan-ulasannya.
2. TIGA BENTUK TEOLOGI DI INDONESIA
Dalam tulisan ini, sebagai pertanggungjawaban iman, moral dan
ilmu pengetahuan penulis dapat mengulas dengan tiga pendekatan teologis, yaitu:
Teologi Negara, Teologi Gereja Negara dan Teologi Profetis. Ikuti ulasan secara
singkat.
2.1. Teologi Negara/Pemerintah
Sejak lama, negara/pemerintah membajak atau memanipulasi surat
(Roma 13:1-7) untuk pembenaran (justification) & melegitimasi
(legitimation) kekejaman, kejahatan, kekejian dan tindakan perampokkan yang
dilakukan terhadap rakyat. Tanpa mempelajari dan mengerti latar belakang surat
Roma, Negara/penguasa berlindung dibalik surat Roma.
Untuk menutup-nutupi kekejaman Negara, ayat dari surat Roma
13:1-7 dikutip utuh dan disampaikan di mimbar-mimbar dan sambutan-sambutan.
Manipulasi ayat Firman Allah itu kejahatan terbesar.
Para teolog, para pejabat/penguasa dan para non teologia, selalu
terperangkap dengan apa yang disampaikan oleh penguasa selama ini. Kita semua
menjadi korban kepentingan. Kita semua telan utuh dan mentah-mentah tanpa
kritisi apa yang disampaikan oleh penguasa.
Negara mempunyai teologinya sendiri. Penguasa selalu membajak
dan memanipulasi surat Roma 13:1-7 untuk membungkam mulut para pemimpin gereja
yang kritis. Negara menggunakan surat Roma ini untuk membenarkan perilaku
kekejaman, kejahatan, pembunuhan, penangkapan, penculikan dan pemenjarakan umat
Tuhan.
Pertanyaannya ialah apakah pemerintah sebagai hamba Allah
diberikan mandat oleh Allah untuk menangkap, mennculik & menembak mati umat
Tuhan?
Dalam konteks West Papua, apakah pemerintah Indonesia diberikan
tugas dan perintah dari Tuhan Yesus untuk OPM-kanlah domba-domba-Ku,
Separatiskanlah domba-domba-Ku, Makarkan domba-domba-Ku, KKSB-kanlah
domba-domba-Ku, Kerjalah domba-domba-Ku, Tembaklah dan matikanlah
domba-domba-Ku, Penjarakanlah domba-Ku?
Dalam memahami Firman Tuhan harus utuh dan tidak
sepotong-potong. Dalam Keluaran 20:13,15, TUHAN Allah melarang dengan keras:
"Jangan membunuh."
Rasul Paulus menegaskan: " Tidak tahukah kamu, bahwa kamu
adalah baik Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang
membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah
adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu." ( 1 Korintus 3:16-17).
Yang perlu diingat oleh pemerintah, TNI-Polri yang menduduki dan
menjajah rakyat dan bangsa West Papua, dalam Alkitab, Kitab Suci orang Kristen,
tidak ada OPM, tidak ada Seperatis, tidak ada Makar, tidak ada KKSB. Walaupun,
dalam Kitab Suci, Alkitab tidak ada, pemerintah Indonesia dan TNI-Polri
menggunakan Teologi Negara dan membantai Orang Asli Papua dengan Teologi
Negaranya.
2.2. Teologi Gereja Negara (TGN)
Gereja yang mengangut Teologi Gereja Negara (GTN) selalu
mempromosikan program-program pemerintah di mimbar-mimbar gereja. TGN sangat
dekat dengan penguasa dan surat Roma 13:1-17 disampaikan secara vulgar tanpa
mengerti latar belakang surat ini.
Teologi Gereja Negara menyampaikan kebenaran, keadilan, kasih,
kedamaian, pengharapan, keselamatan, dosa, hidup kekal, nama Allah, Yesus dan
Roh Kudus dari mimbar-mimbar.
Tetapi, para pemimpin Gereja, pendeta dan gembala yang menganut
Teologi Gereja Negara selalu berdiri bersama pemerintah dan mengatakan kepada
umat Tuhan/takyat.
Hai rakyat, kamu jangan melawan pemerintah adalah wakil Allah.
Kamu jangan demo-demo untuk melawan pemerintah wakil Allah. Tetapi, mereka
tidak pernah menegur pemerintah, hei, kamu, pemerintah jangan melakukan
kekerasan kepada umat Tuhan. Bahkan lebih kejam ialah para pendeta dan gembala
selalu persalahkan umat Tuhan. Karena umat Tuhan dianggap melawan pemerintah.
Para pemimpin gereja, pendeta dan gembala yang meyakini Teologi
Gereja Negara tidak melihat dengan mata iman dan mata hati tentang nilai-nilai
keadilan, kebenaran dan kedamaian hak hidup, hak politik yang
disuarakan/diperjuangkan umat Tuhan. Tidak pernah melihat penderitaan rakyat.
Para pemimpin gereja, pendeta dan gembala yang percaya Teologi
Gereja Negara dengan setia menjadi bemper atau tameng dari penguasa yang
bengis, kejam dan jahat.
Para penganut Teologi Gereja Negara selalu bahu-membahu,
bergandeng tangan dan bekerja sama dengan pemerintah dan TNI-Polri,
menyelenggaran Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) besar-besaran, perayaan Natal
dengan simbol-simbol Negara. Para penganut Teologi Negara dan Teologi Gereja
Negara hidup saling menguntungkan di atas penderitaan, tetesan air mata dan
cucuran darah umat Tuhan. Mereka selalu gunakan berbagai cara yang wajar sampai
pada level yang sangat tidak wajar.
Dua contoh terbaru Desember 2019.
(a) Pendeta Gilbert Lumoindong diundang dan difasilitasi oleh
Kodam XVII/Cenderwasih untuk sampaikan kasih dan kedamaian SEMU dan HAMPA
sementara umat Tuhan, Orang Asli Papua menderita sudah 58 tahun.
(b) TNI hadir dengan Kaos bertuliskan: "Kitong Papua,
Kitong Cinta Indonesia, Kodam XVII/Cenderawasih" dalam Natal bersama
Jemaat GIDI Kurnia Taruna, Sentani pada 5 Desember 2019.
Yang seharusnya ialah Kitong Cinta Tuhan Yesus Kristus yang
lahir untuk kita. Bukan Kitong Cinta Indonesia yang menduduki, menjajah,
menindas, membantai, membunuh dan memusnahkan Penduduk Asli Papua.
2.3. Teologi Profetis
Para pemimpin Gereja, Pendeta dan Gembala yang menganut Teologi
Profetis selalu dengan setia berdiri bersama-sama dengan umat Tuhan yang
tertindas, teraniaya. Mereka selalu menjadi suara bagi umat Tuhan yang tak
bersuara
Apa dasar yang dipegang oleh para penganut Teologi Profetis?
Apa dasar yang dipegang oleh para penganut Teologi Profetis?
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus
Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan
bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas..."
(Lukas 4:18-19).
Berdasarkan kuasa dan mandat Roh Tuhan, para Gembala menentang
dan melawan pemerintah yang berwatak pencuri dan perampok dan pembunuh. Karena
Yesus berkata:
"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan." (Yohanes 10:10).
Para pemimpin Gereja, pendeta dan gembala yang benar berdiri dan
rela berkorban dan mati untuk rakyat yang dianiaya.
"Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan
nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan
yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang,
meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan
mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).
Para pemimpin gereja, pendeta dan gembala yang menganut teologi
profetis/suara kenabian memegang teguh pada tugas yang diberikan oleh Yesus
Kristus untuk menggembalakan, menjaga, memelihara dan melindungi umat Tuhan
dari para penjahat, pencuri, pembunuh dan perampok.
Tuhan Yesus memberikan kuasa dan mandat kepada pemimpin gereja
dan gembala. "Gembalakanlah domba-domba-Ku". ( Yohanes 21:15-19).
Mengapa, Gembala Dr. Socratez S.Yoman bersuara tegas melawan
kejahatan pemerintah Indonesia atas umat Tuhan di West Papua?
Para pembaca yang terhormat, ikutilah pijakan dan keyakinan saya
selain yang sudah disebutkan tadi.
(a) Manusia diciptakan oleh Allah sesuai dengan rupa dan gambar
Allah (Kejadian 1:26) bukan diciptakan oleh NKRI.
(b) Tuhan Yesus lahir, mati di kayu Salib di Golgota dan bangkit
untuk manusia bukan untuk NKRI.
Para pemimpin Gereja, Pendeta dan Gembala yang menganut Teologi
Profetis selalu dengan setia berdiri bersama-sama dengan umat Tuhan yang
tertindas, teraniaya. Mereka selalu menjadi suara bagi umat Tuhan yang tak
bersuara. Mereka menjadu sahabat yang terabaikan, yang disingkirkan, yang
dilumpuhlan, dan yang dibuat tidak berdaya.
Para pemimpin Gereja, Pendeta, Gembala, ini berdiri dan
berpedoman pada Firman Allah dan perintah-perintah Allah. Mereka dengan iman,
dengan kekuatan moral selalu berdiri berama-sama dengan rakyat yang
memperjuangkan hak hidup, hak politik, keadilan, kebenaran, kasih &
kedamaian, pengharapan.
Mereka menjadi sahabat orang-orang kecil yang terabaikan, dihinakan dan yang membisu.
Mereka menjadi sahabat orang-orang kecil yang terabaikan, dihinakan dan yang membisu.
Rakyat dan bangsa West Papua punya hak hidup, hak politik untuk
berdiri di kaki sendiri di atas tanah leluhur mereka. Perlakukan yang kejam,
brutal, penangkapan, penculikan, penyiksaan, pembunuhan dan pemusnahan yang
dilakukan pemerintah Indonesia melawan hukum TUHAN. Pelanggaran berat HAM
selama 58 tahun harus diungkap demi rasa keadilan dan perdamaian.
(c) Proses penggabungan bangsa West Papua ke dalam wilayah
Indonesia melalui proses pelaksanaan Pepera 1969 tidak demokratis, cacat hukum
dan moral dan melawan hukum Internasional. Rakyat dan bangsa West Papua dipaksa
pilih tinggal dengan Indonesia dengan moncong senjata ABRI. Dan kejahatan dan
kekejaman itu terus berlangsung sampai 2019.
Penulis berkeyakinan, Tuhan Allah tidak melarang West Papua
Merdeka. Alkitab tidak melarang West Papua Merdeka. Gereja tidak melarang West
Papua Merdeka. Karena kemerdekaan dan kedaulatan setiap manusia itu hakiki dan
yang fundamental sebagai pemberian TUHAN.
Yang dilarang TUHAN, yang dilarang Alkitab, Kitab Suci, yang
dilarang gereja teologi profetis ialah "Jangan membunuh umat Tuhan"
(Keluaran 20:13).
"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah baik Allah dan bahwa
Roh Allah di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan baik Allah, maka
Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu
ialah kamu" ( 1 Korintus 3:16).
3. KESIMPULAN
Akhir dari uraian tulisan ini, penulis memberikan kehormatan
kepada sahabat pendeta yang melihat dari mata iman dan mata hati tentang
sejarah penderitaan panjang umat Tuhan, rakyat dan bangsa West Papua dari
perspektif Teologi Profetis. Penghormatan dan penghargaan saya dengan
mengabadikan karya imannya sebagai kesimpulan tulisan ini.
Ini bukti bahwa rakyat dan bangsa West Papua tidak berjuang
sendiri, tetapi Tuhan Allah telah anugerahkan orang-orang beriman seperti
pendeta Hariman. Tentu saja banyak orang yang sudah berdiri bersama umat Tuhan
di Tanah Papua demi kemanusiaan, keadilan, kesamaan derajat, martabat manusia
dan kedamaian abadi.
"BERDIRI BERSAMA KORBAN"
Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta
"Dahulu, Hitler membantai orang Yahudi dan tindakan biadab
itu mendapat restu gereja. Syukurlah ada Dietrich Bonhoeffer dkk yang menarik
gereja ke jalan yang benar. Mengakui Allah di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan
dan kepala gereja menuntut kesetiaan gereja akan panggilan profetiknya, bukan
tunduk dan takluk pada hegemoni penguasa. Walaupun untuk itu, ada harga yang
harus dibayar Bonhoeffer sebagai seorang murid Kristus.
Gereja-gereja di Indonesia lama terjebak dalam kenyamanan "perlindungan"
negara. Ketakutan terhadap Islam, membuat gereja-gereja, khususnya di tanah
Jawa, memilih mendekat pada penguasa dan aparatusnya. Namun, di luar pulau
Jawa, gereja-gereja di kantong Kristen pun merasa nyaman dan menikmati keistimewaan
berelasi dengan pemerintah. Realitas itu menandakan bahwa agama (baca: gereja)
dan politik memang sahabat karib yang mutualistik. Kondisi-kondisi ini yang
membuat gereja cenderung berdiam diri terhadap praktik ketidakadilan yang
dilakukan negara.
Saya tidak bermaksud membawa gereja untuk bermusuhan dengan
pemerintah dan aparatusnya. Kita semua membutuhkan pemerintah dan tentara.
Sebaliknya, pun begitu. Pemerintah dan tentara membutuhkan agama atau gereja.
Yang harus dimusuhi oleh gereja adalah ketidaksetiaannya kepada Tuhan Yesus
Kristus. Yang harus dijauhi gereja adalah sikap oportunistiknya untuk berdiam
dalam kenyamanan palsu. Gereja harus kritis dan keluar dari relasi-relasi kuasa
yang manipulatif dan berdiri bersama korban-korban ketidakadilan.
Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain selain dari pada gereja
menjadi gereja itu sendiri. Gereja menjadi gereja dengan menghidupi iman kepada
Allah di dalam Yesus Kristus, serta mengikuti teladan-Nya. Teladan profetik-Nya
yang hadir untuk orang-orang kecil, marginal, dan tertindas.
Dalam konteks Indonesia, maka gereja harus berdiri sebagai
mimbar bagi rakyat Papua yang terus ditembaki, dan dikorbankan untuk ambisi
kekuasaan. Gereja tidak boleh menjadi corong orang kuat! Kalau hal itu terjadi,
tidak ada bedanya kita dengan gereja dan para pendeta yang mendukung Hitler
dalam membantai orang-orang Yahudi di masa lalu.
Jadi, mari berdiri bersama korban, dan menjadi mimbar untuk
menyuarakan stop kekerasan, serta memperjuangkan perdamaian dan keadilan untuk
semua. Kendati karena hal itu, kita mesti keluar dari zona nyaman dan berani
membayar harga."
Doa dan harapan penulis, artikel ini memberikan pencerahan,
penguatan dan juga menantang para pembaca untuk melangkah seperti Surya Anta
Ginting, Veronika Koman, dan Pdt. Hariman A.Pattianakotta dan lain-lain.
Saya sampaikan Selamat Merayakan 25 Natal 2019 dan Memasuki
Tahun Baru 1 Januari 2020.
Ita Wakhu Purom, Jumat, 6 Desember 2019.
Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua
(Papua)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar